Selamat datang di LAZKAM
Agenda Sekolah

ANAK KESULITAN MENEMUKAN KATA SAAT BERBICARA

ANAK KESULITAN MENEMUKAN KATA SAAT BERBICARA

Oleh : Yunita Dwi Larasati Nugroho, A.Md., TW.

Sering kita merasa frustasi jika kita mengalami kesulitan menemukan kata saat bicara. Padahal kita tahu kata-katanya, sering menggunakannya dan yakin itu ada di kepala kita tapi masih saja kesulitan. Permasalahan ini dikenal sebagai kesulitan menemukan kata (word finding difficulties).

 

Kita cenderung mengaitkan permasalahan ini dengan usia. Semakin tua maka akan semakin kesulitan menemukan kata, tetapi anak-anak juga dapat memiliki masalah ini. Seperti orang dewasa, semua anak pasti pernah memiliki masalah menemukan kata ini. Tetapi beberapa anak sangat kesulitan menanganinya dan itu bisa membuat mereka frustasi.

 

Berikut ini adalah tanda atau gejala dari anak-anak yang mengalami kesulitan menemukan kata yang ingin mereka ucapkan:

  1. Sering menggunakan kata jeda seperti uh atau hm.
  2. Sulit menemukan kata spesifik dan lebih sering menggunakan deskripsi panjang atau tidak jelas, seperti “Dimana benda yang biasa saya gunakan di rambut?”
  3. Salah mengucapkan kata, seperti mengucapkan kopak untuk menyebut kotak.
  4. Mengucapkan kata yang memiliki arti yang sama tetapi terdengar berbeda, seperti mengatakan kursi untuk menamai sofa.
  5. Mengucapkan kata yang terdengar mirip tetapi memiliki makna yang berbeda, seperti mengucapkan telepon ketika menyebut klepon.

 

Kredit Foto : https://mediaindonesia.com/galleries/detail_galleries/15160-terapi-siswa-berkebutuhan-khusus

 

Sebenarnya apa yang menyebabkan kesulitan menemukan kata semacam ini? kecemasan, dan kurang tidur diyakini dapat mempersulit anak-anak menemukan kata-kata yang ingin mereka ucapkan. Terkadang kesulitan menemukan kata bisa menjadi tanda permasalahan yang lain. Menemukan kata bisa sulit untuk anak-anak yang memiliki gangguan bahasa atau untuk anak-anak yang kesulitan membaca, seperti anak-anak yang mengalami disleksia. Masalah dengan pencarian kata juga bisa menjadi tanda bahwa seorang anak mengalami masalah dengan fokusnya. Ini juga umum terjadi pada anak-anak yang mengalami cedera otak, seperti gegar otak.

 

Hal penting yang dapat dilakukan sebagai orangtua adalah membuat catatan tentang apa yang kita lihat di rumah. Jika kita menemukan kesulitan, bicarakan dengan guru atau terapis wicara untuk mendapatkan jawabannya, atau kita juga bisa menggunakan beberapa tips dasar di bawah ini:

  1. Dukung upaya anak dalam interaksi sehari-hari, baik dengan teman sebaya dan lingkungannya.
  2. Dorong mereka untuk mencari kata tertentu, daripada berbicara mengitari kata itu dan terlalu banyak menggunakan kata jeda seperti “hm, uh”.
  3. Dorong mereka untuk memikirkan bunyi awal kata yang ingin diucapkan. Jika mereka kesulitan memikirkan bunyi katanya, maka tawarkan bantuan untuk menyebutkan bunyi pertama dari kata tersebut, missal “b” untuk bola atau menawarkan suku kata pertama seperti “Bu” untuk
  4. Beri anak petunjuk misalnya, “seperti”, “berbentuk”, “berwarna”.
  5. Mendorong anak untuk memikirkan deskripsi objek misal, ”seperti apa bentuknya?”, “apa yang biasa kita lakukan dengannya?”
  6. Gunakan strategi penyelesaian kalimat, misalnya “rumput berwarna ……. (hijau)”.

 

Di atas semua itu, penting untuk berkomunikasi secara jujur ​​dengan anak kita tentang tanda-tanda yang kita lihat. Biarkan anak kita tahu bahwa tidak masalah atau kadang-kadang membuat kesalahan dengan kata-kata. Jika kita bisa terlihat tenang dalam menyikapi permasalahan menemukan kata tersebut maka anak kita akan mengalami ketenangan yang sama dan tetap nyaman dalam interaksi sosial. Dan ingat satu kunci mengenai kesulitan menemukan kata ini, anak dianggap memiliki masalah ini jika anak benar-benar tahu tentang kata dan makna kata tersebut namun sulit mengucapkan atau menggunakannya saat berbicara.

Comments are closed.